KURA-KURA

Rabu, 27 April 2011


Sang Primadona


Cerpen A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***

Cinta dan Sahabat

Cinta dan sahabat, dua hal yang tak mudah ntuk dimengerti. Kadang bisa sangat berarti, namun dalam hal itu bisa membuat luka teramat perih. Aku adalah orang yang berada di tengah-tengah cinta dan sahabat itu. Kini, aku yang begitu merindukan hadirnya seorang kekasih, dalam hangatnya persahabatanku dengan Sisil yang lebih muda satu tingkat dariku.

Tiga minggu di awal semester satu...aku duduk di bangku kelas XII, seabrek kegiatan pun kulalui tanpa kuharus memikirkan cinta menurutku itu hanya membuatku lelah.
Namun, pertemuan itu membuatku melupakan suatu hal, aku yang larut dalam perasaanku terhadap Alan. Aku terlalu bodoh karena terlalu jatuh hati pada orang yang salah, jatuh hati pada orang yang tak pernah menyimpan cinta padaku. Aku tak begitu saja menyalahkannya! Dia tak patut untuk disalahkan, dia hanya korban dari cintaku dan dia terlalu baik mau mengerti akan cintaku padanya.

Dan terlalu naif bila kini aku harus menyesal karena mengenalnya. Karena dia aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya sekejap. Aku terlalu naif hingga aku pun tidak menyadari Sisil merasakan juga perih yang kurasa. Sisil sahabatku orang yang kupercaya seutuhnya, orang yang selalu berusaha ada untukku. Kini, telah terluka karena keegoisanku.

Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Alan dan Sisil. Bila akhirnya luka ini yang kurasa.
Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Alan, Alan dan Alan. Orang yang kucintai dan selalu ada dalam hatiku walau hati ini terasa perih, kudapat mengerti tak ada gunanya kubertahan di sisimu, karena ternyata kau lebih menginginkan Sisil mengisi hari-harimu. Aku di sini yang begitu tulus mencintaimu dan aku yang selalu berusaha ntuk mengerti dirimu kan selalu menanti dan menata hati lagi hingga bayanganmu pergi hingga tak ada lagi luka kurasa, hingga tak ada lagi kecewa yang terasa.
Aku di sini kan selalu berusaha tegar menjalani hari-hariku, aku kan selalu berusaha tersenyum agar kau bisa bahagia bersama Sisil sahabatku. Walaupun dia telah merebutmu, kisahku dan dia dulu takkan pernah kulupa, dia tetap sahabatku, percayalah dengan sisa kesedihanku ini.

Kumasih dapat bertahan hingga kelak kau mengerti bahwa aku memang mencintaimu. Aku memang menyayangi, tapi aku tak rela tersakiti olehmu saat ini, esok dan sampai kapanpun.
Pertemuan itu berawal dari perkenalanku dengan Alan, seorang cowok yang aku kenal dari temanku, Marcell. Perkenalan yang terbilang singkat juga, aku mulai merasakan getaran cinta itu. Rasa itu mulai menerangi kembali tahta hatiku yang telah lama ditinggal pergi oleh seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku dulu. Yang sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya.

Alan yang telah hadir untuk mengisi hari-hariku pun membuatku terlelap akan rasa bahagia itu, hingga akupun tak pernah menyadari ternyata semua kebahagiaan itu palsu. Alan orang yang kucintai dengan tulus ternyata datang hanya untuk menyakiti dan menorehkan luka. Luka yang teramat dalam di hatiku. Pertemuan itu juga yang telah menghancurkan semuanya. Hidupku yang begitu indah yang begitu berwarna menjadi hancur akan hadirnya!

Malam itu aku dan Alan sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasakan sebahagia ini, aku begitu merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Alan begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya, bila bersamanya. Itu juga yang membuatku merelakan tahta hatiku dipenuhi oleh cintanya, namun lagi-lagi kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kuharapkan.

Minggu pertama hubungan cintaku bersama Alan mulai goyah, Alan mulai berubah dan tidak lagi Alan yang selalu tersenyum untukku. Alan tidak juga bersifat manis padaku, setiap tutur katanya yang menyejukkan hatiku kini terasa mengiris-iris hatiku. Apa yang telah kulakukan padanya hingga dia begitu tega padaku, aku begitu percaya padanya hingga aku pun terluka olehnya.

Hubungan ini berakhir begitu saja, pertemuan singkat itu menjadi menyakitkan. Sahabat pun menjadi pelarian sedih dan kecewa, tapi sahabatku tega mengkhianatiku. Dia yang ternyata merebut Alan dariku, dia merenggut semua kebahagiaanku . Persahabatan yang telah bertahun-tahun kubina bersamanya pun menjadi tak berarti. Aku lelah dengan semua ini hingga aku sempat memutuskan tali persahabatan itu, egoiskah aku?

Aku hanya belum bisa berpikir jernh saat itu, aku merasa semakin tolol, seharusnya kubisa merelakan Alan dan Sisil untuk bersama. Karena mungkin kebahagiaan Alan hanya ada pada Sisil! Aku belum siap kehilangan kebahagiaan itu, aku masih ingin disayangi walau semua itu hanya kebohongan. Aku tak mau merasakan sakit hati ini lagi. Akankah sakit ini akan terganti saat ku melihat kebahagiaan orang yang kucintai dan Sisil sahabatku.

Kini dalam setiap hari-hari sepiku, dalam kesendirianku, aku hanya bisa berharap aku kan memiliki kekasihku lagi, memiliki dia yang telah pergi, karena aku kan selalu mencintainya. Aku kan selalu mengenangnya di dalam hatiku,karena dia telah datang dan pergi dengan menghiasi setiap sudut didalam hatiku dengan cintanya yang sesaat, dan Sisil sahabatku buatlah cintaku bahagia karena kalian begitu berarti untukku...***
Gadis Kota

Dalam perkelanaan cintaku ini aku terbawa sampai ke Ibu Kota Jakarta,sungguh lucu mengingat aku ini bermula ditawari nonton bareng suatu pertandingan di Jakarta,secara kebetulan aku bertemu gadis ini disebuah loket voucher,keadaan disana sangatlah penuh sesak,aku berangkat untuk membeli voucher yang nantinya ditukar dengan tiket sebelm menonton pertandingan itu bersama adik kesayanganku,setelah aku mendapatkan vouchernya aku harus cepat keluar dari kerumunan orang ini,namun sayang pegangan tangan adikku lepas,aku mencoba mencari dan meraih tangannya untuk kutarik keluar barisan,kumelihat sebuah tangan yang langsung kukira tangan adikku,tak pikir panjang aku tarik tangan itu,ternyata salah orang,dia adalah seorang gadis dari kota jakarta ini,wajahku memerah karena malu,apalagi ketika adikku malah menepuk bahuku dan memanggilku dari belakang ,aku diam sejenak menahan malu,dan langsung minta maaf kepadanya,”ah gak papa malah gw terimakasih bgt sama kamu yg udah nolongin aku dari kerumunan ini” jawab gadis itu dengan logat bahasa gaul yang telah faseh ketika aku minta maaf,ternyata dia juga telah membeli voucher namun tak bisa keluar,ahir cerita ku pamit untuk pulang kepadanya,setelah kuberpaling ada sesuatu yang janggal di hatiku,kuingin berbalik lagi dan berbicara kepadanya lebih lama,namun dia telah hilang di telan kerumunan orang,sungguh sayang aku belum tau namanya.

Sedikit menyesal memang,kehilang seorang bibit cinta yang mulai tumbuh dalam hatiku,hari demi hari kucoba datang ke gelora bung karno,alih alih membeli souvenir untuk pertandingan sehingga ku bisa turut mencari gadis itu kembali,tapi hasilnya nihil,gadis itu tak nampak,ahirnya pasrah,aku berpikir “mungkin bukan jodohku” .

Hari yang ditunggu tunggu pun tiba selepas 1 minggu menunggu jadwal pertandingan,ahirnya pertandingan itu dimulai pada malam hari pkl 19.30 malam,aku berangkat dengan adikku menggunakan mobil ke gelora bung karno pkl setengah lima,karena ku takut tak kebagian tempat parkir,sebelumnya kemarin kutelah menukar voucher itu dengan tiket masuk,sesampainya disana ,aku menunggu cukup lama didalam mobil,laptopku ketinggalan di kampung alhasil kusangat bosan disana,hanya bisa melihat adiku yang berkali kali tersenyum sendiri membaca sms dari pacarnya “fiuuh lama amat” gumam ku dalam hati.

Waktu yang ditunggu pun tiba,aku masuk kedalam bung karno menuju tempat duduku di kawasan VIP barat,setelah duduk,seorang perempuan dengan pakaian lengkap timnas dan stiker bergambar indonesia di pipinya memanggilku dari samping,aku menoleh,sungguh kebetulan sekali,aku bertemu gadis yang kutarik dalam loket voucher minggu kemarin,aku sungguh kaget, “ memang jodoh ga kemana”gumamku tak jelas”,”apa?lu bilang apa?” tanya gadis itu,”eh gak,gak bilang apa apa”sahutku dengan kaget, “ oiya nama kamu siapa?”, aku balik bertanya, “gw andin,lu?” aku memeberikan namaku,dan kami pun mulai pembicaraan panjang tetgang asal muasal kami,dll sebelum pertandingan dimulai

Dalam pertandingan aku tak konsentrasi,aku seringkali memandangi mata dan wajahnya penuh rasa kekaguman,memang,wajahnya cantik,pipinya tembam,rambutnya lurus,mengenakan topi merah berlambang garuda dan pony tailnya keluar dari lubang dibelakang topinya itu,aku perhatikan dia sangat bersemangat mendukung jagoannya di pertandingan ini,dia berteriak teriak tidak jelas ketika musuh mulai mendekati kotak finalty jagoannya,lucu memang melihat gadis cantik berteriak teriak :D
Ahir pertandingan tim kami menang,namun tak bisa mendapat piala karena kalah dalam agregat gol di final ke 1,wajahnya yang tadi semangat menjadi sedkit murung,wajahnya ditekuk,pipinya ia gembungkan tanda tak puas,”kamu kenapa?kok sedih gitu?” tanyaku “hee gak papa Cuma abis uangku Cuma tuk nonton tim kita kalah” ya ya ya aku juga seperti itu,tabunganku kuambil 3 juta untuk kejakarta ini,dan tak tersisa sedikitpun sampai ke kampung.

Sepulang dari pertandingan jalanan ramai sekali sangat macet,mobilu pun tak bisa keluar dari parkiran,aku melihat gadis itu ketika berpisah dengan kami,ternyata ia jalan kaki,aku panggil dia,dia menoleh lalu aku ajak dia untuk pulang bersamaku,rumahnya memang lumayan jauh dari gelora bung karno,namun ia nekat sekali jalan kaki bersama teman temannya,dan sudah malam pula,dengan sedikit memaksa ahirnya dia mau,lalu berpamitan dengan teman temannya lalu lari kembali ke arah mobilku ,kebetulan lagi rumahnya searah dengan tujuan kami.

Karena keadaan tak memungkinkan aku ajak ia makan,tentunya barengan dengan adikku disebuah restauran biasa di dekat gelora bung karno,sembari menunggu jalanan kembali normal jadi kami bisa pulang dengan lancar,kami pun kembali berbincang bincang,adikku pun tak dibikin repot oleh kami yang sedang pdkt karena dia pun sibuk dengan smsnya.

Akhir cerita ku ajak ia joging dan lari pagi esok,”boleh boleh aja”sahut ia,setelah makan kami pun pulang jalanan masih belum juga normal namun tak separah tadi,kunekt mengantar ia pulang,dia menunjukan rumahnya ketika kumulai memasuki sebuah perumahan,jari telunjuknya yang manis menunjukan rumah berwarna kuning dengan pagar berwarna coklat tembaga dan ada kebun kecil di halaman depannya itu,aku meminggirkan mobilku kedepan rumah itu,sebelum ia keluar,aku meminta nomor handphonenya,dia memebrikan nomornya dnegan senang hati kepadaku,”makasih ya,kamu udah mau nraktir ama nganterin gw..” , “ ya gapapa biasa aja,jangan lupa besok ya”, “ oke deh” sahut ia dengan mengedpinkan mata kanannya.

Esok hari,aku sangat kaget melihat jam dinding di depanku menunjukan angka 7,aku sangat kaget karena kujanji joging dengan ia jam 6,kuraih hapeku,terlihat 3 panggilan tak terjawab dengan nomor andin, aku pun lemas,dengan menyesal ku sms dia,dia hanya menjawab dengan biasa dan tak ada rasa marah,aku pun lega,walaupun aku bisa saja kembali kerumahnya dan mengajaknya makan taupun yang lain tapi hari ini aku harus pulang dan packing,karena sebentar lagi juga adiiku akan berangkat sekolah di hari senin besok,

Akhir cerita kupungan dengan adikku ke kampung di jawa tengah,bias wajahnya masih saja membayangiku,wajah dan senyumannya yang selalu kuingaty membuatku bahagia dan selalu ingin mengingatknya,dalam perjalanan ia mengirimkan sms “ hati hati di jalan ya” hmmmm sungguh kenangan terindah,mungkin inilah perempuan yang dapat menggantikan Dhea di hatiku,walau begitu bayang dhea tak kunjung hilang di benakku... “Aku pasti kembali,tunggu aku” gumamku dalam hati dengan yakin.

Selasa, 30 November 2010

MUNAJAD


Ya robb
Aku memandang langit lepas
Di ujung batas mata lenaku
Penuh cinta
Ya robb
Aku bertasbih
Dalam setiap desir nafasku
Penuh cinta­
Ya robb
Seperti takdir yang kugenggam
Dalam batas ruang misteri
Aku selalu bermunajad menjuMU

BISMILLAH

Basuhlah diri dengan air
kesucian
Ingatlah pikiran akan tuhan
Pencipta
Sinarilah diri dengn serpihan
Ayat al qu’ran
Majat,dalam sujud dimala-maam
Sunyi dalam dimensi ruang dan waktu
Istigfar pun terucap dari gemulainya
Dua bibir
Lelapkan malam dengan
Astagfirullah

Bismillah
Aku berlindung
Dari godaan setan yang terkutuk

Selasa, 23 November 2010

KUTEMUKAN BULAN MENGGAMBARKAN CINTA


Di lengkung alis matamu
Kutemukan bulan menggambarkan cinta
Matamu yang bening
Seakan memberiku ruang untuk bertedu
Lantas menepi di ujung hatimu

Kutemukan kau dalam keembutan cinta
Dalam tutur katamu yang membius

di lengkung alis matamu
kutemukan bulan menggambarkan cinta
begitu damai
sedamai nyanyian burung pagi